| Susno dan Rumah Kaca Polri |
| Jumat, 14 Mei 2010 13:57 |
|
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sulit untuk mencari pejabat bersih dinegeri ini. Konsep “memberi untuk menerima” menjadi acuan dasar perhelatan deal politik dinegeri kita, sehingga tidak mengherankan jika negeri ini menjadi sarang korupsi dan mafioso hukum. Survei lembaga Transparency International Indonesia dalam beberapa tahun terakhir masih menempatkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, dan Partai Politik sebagai lembaga terkorup di negeri ini. Makelar kasus, Jual-beli perkara, negosiasi kepentingan, bukan isapan jempol belaka. Sudah banyak elite politik yang masuk bui karena suap dan manipulasi. Sulit dipungkiri bahwa mantan Kabareskrim Polri Komjen Susno Duadji merupakan sosok yang kontroversial, sebagai salah satu pejabat tinggi Polri, beliau dihadiahi gelar “pengkhianat” oleh korpsnya akibat membuka sejumlah fakta jaringan mafioso hukum yang mencokol di negeri ini, namun banyak pula kalangan yang memberi atensi. Adanya pola persaingan internal (persaingan antar bintang) pun tak dapat ditutupi dari “drama” hukum yang terjadi. Terlepas dari kontroversial sosok beliau, namun yang menjadi substansi adalah apa yang beliau sampaikan. Tidak penting sumbernya dari mana, karena yang penting adalah ‘apa yang dikatakan’ bukan ‘siapa yang mengatakan’. “Unzhur maa qiila , walaa tanzhur man qoola”. Walau kebenaran itu datang dari mulut anak kecil sekalipun.
Sudah saatnya institusi Polri melakukan perubahan dan perbaikan, merekayasa ataupun memanipulasi hanya memperlambat arus perubahan, karena perubahan dan perbaikan merupakan suatu keharusan. Rumah kaca Polri kini menjadi sorotan, setiap langkah, gerak-gerik, sepak terjang yang dilakukan selalu menjadi penilaian. Percuma melakukan upaya-upaya peredaman karena kebenaran lambat laun akan muncul kepermukaan, jika Polri tidak mengakomodir aspirasi masyarakat negeri ini maka tunggulah kemana arus perubahan itu akan terus bergulir. Ibarat bola salju akan terus menggelinding, semakin lama semakin membesar hingga akhirnya akan berhenti pada titik koordinat yang telah ditentukan. Citra Polri di masyarakat dipertaruhkan, kepercayaan rakyat harus terlunaskan karena “kemerdekaan” Polri dari tubuh TNI adalah andil dari arus reformasi, menuntut perbaikan dan perubahan di negeri ini. Harapan rakyat masih ada padamu Polri. Maka tunjukanlah perbaikan kinerjamu pada negeri ini. |
Oleh Umi Illiyina,SH




