|
Pengabdiannya Di Birokrasi Memantapkan Langkahnya Ke Puncak Sukses
Jakarta, lintasindonesia.com. Tak selamanya obsesi mengantar orang untuk sukses. Namun kegigihan dan ketabahan menekuni perjuangan hidup dan karir, bisa jadi menjadi pilihan menuju sukses. Tak disangka, pilihan itu pulalah yang menghantarnya menerima penghargaan Anugerah Prestasi Insani, dengan kategori “The Prominent Figure Of Indonesian Development Golden Award” periode Mei 2011, yang dianugerahkan Yayasan Anugerah Prestasi Insani (YAPI), di Kartika Chandra Hotel, Jakarta, Jum’at (06/05) malam pekan lalu. Dalam kesempatan bincang dengan wartawan, sebelum acara dimulai, pejabat yang sangat ramah dan santun ini bicara lugas dengan wajah selalu senyum. Nampak jelas ketulusannya sebagai seorang Abdi Negara.
Diceritakan, Drs. H. Haryanto, MM, Wakil Bupati Sukoharjo, anak dari keluarga pas-pasan, dengan 8 bersaudara, tetap mensyukuri apa yang ada dalam hidupnya. Sekalipun dulu ayahnya Mantri Kesehatan, namun masa kecilnya tak ada istilah bermewah-mewah. Anak desa Wulut, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini, sama dengan anak lainnya, yang bermain di lingkungan alam dan pertanian.
Semula dirinya berobsesi ke Fakultas Kedokteran, usai lulus dari SMA Negeri 5 Surakarta. Namun orangtuanya memberi pandangan, agar memilih kuliah yang cepat selesai, karena saudaranya banyak. Jadilah Haryanto memilih kuliah di Fakultas MIPA Universitas Gajahmada, Yogyakarta. Namun, setelah beberapa semester, merasa kurang cocok, dia terpaksa meninggalkannya. Dia ikuti tes di APDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) Semarang. Karena dia berpikir, selain waktu tempuh kuliahnya pendek, setelah lulus, langsung ditempatkan. Diapun lulus, dan kemudian itulah awal dirinya menetapkan jalur pengabdian selanjutnya. Di Jalur Mantri Polisi Mengawali karirnya, pria lulusan Gelombang Pertama APDN Semarang ini, semula mengajukan pilihan I di Semarang, dan pilihan II di Sukoharjo. Namun, bersama temannya seangkatan yang namanya juga persis sama (Haryanto), akhirnya harus adu keberuntungan lewat ‘swit jari’ hingga 2 kali. Akhirnya dia kalah, dan jadilah dirinya pada pilihan II, di Sukoharjo.
Jabatan Mantri Polisi atau Satpol PP (Kepala Satuan Polisi Pamong Praja sekarang-red), jadi karir pertamanya, di Kecamatan Bendosari, tahun 1975. Menurutnya, dulu posisi tersebut cukup bergengsi, karena menjadi orang nomor 2 di tingkat kecamatan. Sebab dulu belum ada Sekcam (Sekretaris Camat). Dua tahun berkarir disana, diapun dipindahkan di Kecamatan Polokarto, dengan posisi yang sama, dari 1977-1980. Selama dijajaran Mantri Polisis inilah, benar-benar seluruh kemampuan dan pengabdiannya diwujudkan untuk pengamanan dan ketertiban masyarakat.
Bahkan sistim Pam Swakarsa, yang sempat menjadi perbincangan sekitar tahun 1999, rupa-rupanya sudah diterapkan di wilayahnya bertugas, pada tahun 75 - an hingga 80-an. “Jadi, sistim Pam Swakarsa itu sudah kita lakukan dari dulu di daerah. Tentu konsep kerjasama memandirikan masyarakat untuk pengamanan lingkungan,” ujarnya, Sebab menurutnya, tidak tertutup kemungkinan, suatu daerah makmur itu, sering terjadi ajang pencurian dibarengi tindak kekerasan. Justru pencurian itu sering berasal dari desa tetangga. Jika dengan pendekatan keamanan dan pengamanan lingkungan masyarakat sudah dapat tercipta dan kondusif, maka masyarakat akan merasa aman dan nyaman untuk bertani, berusaha, dan beraktivitas. Tentu harus kerjasama dengan Muspida setempat.
Keberhasilan di dua posisi yang sama dan dua kecamatan, menghantarnya kemudian menjadi Camat di Kecamatan Bulu, tahun 1980 - 1985. Tentu, banyak karya yang dilakukan untuk membangun desa di wilayah Bulu. Lima tahun jadi Camat Bulu, diapun terpilih kembali menjadi Camat, tapi di kotanya Sukoharjo. Kiprahnyapun makin tertantang sekaligus cemerlang. Pengabdiannya makin menjejak di masyarakat dari tahun 1985-1990. Prestasi yang cukup berkesan adalah, ketika tahun 1987, Kecamatan Sukoharjo, terpilih sebagai juara I kelompok tani, di tingkat Nasional, dalam program Supra Insus. “Kamipun diajak oleh Bupati waktu itu untuk menerima penghargaan dari Presiden Soeharto, di Jakarta,” katanya mengenang. Setelah itu, dirinyapun semakin terdorong untuk berbuat lebih jauh dan lebih banyak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani.
Jadi Wakil Bupati
Tidak aneh, jika kemudian suami dari Puji Sri Rahayu ini, mendapat kehormatan menduduki posisi Plt. Sekda (Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah), yang merupakan pejabat eselon tinggi di Kabupaten Sukoharjo. Sedangkan posisi Sekda sendiri, sangatlah strategis dan menentukan. Sudah pasti, motor penggerak roda organisasi birokrasi pemerintahan berada di pundaknya. Disini, naluri dan kepiawaiannya semakin teruji oleh berbagai persoalan dan kebutuhan masyarakat luas yang harus ditangani. Maka tidak aneh, ketika setelah 34 tahun pengabdiannya menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil), dan pensiun tahun 2007, malah tantangannya makin membubung. Dengan kesungguhan dan keberaniannya, melaju ke puncak karir, menjadi orang nomor 2 di Kabupaten Sukoharjo.
Mendapat kehormatan, dan dipercaya masyarakat, jadilah bapak 3 anak yang sudah mandiri ini sebagai Wakil Bupati, yang waktu itu berpasangan dengan mantan Ketua DPRD Sukoharjo sebelumnya, Wardoyo Wijaya, SH, MH (Bupati sekarang-red), untuk periode 2010-2015.
Mereka berdua dicalonkan PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), dan didukung oleh PKS, PPP, serta ormas-ormas Islam seperti: Muhammadiyah, NU, MTA, IPHI, dan MUI. Walau dikatakan Sukoharjo hanya seluas 466 km persegi, dengan posisi nomor 2 paling kecil di Jawa Tengah, namun penduduknya cukup padat. Dari segi jumlah SDM (Sumber Daya Manusia), cukup menunjang. Ditanya, apa yang diperjuangkan untuk masyarakat Sukoharjo, dia mengatakan: “Yang saya pahami, mereka hendaknya diberi ruang dan gerak, untuk bisa berbuat lebih, agar mamapu men-sejahterakan diri sendiri,” tandasnya. Selain itu menurutnya, bagi mereka yang punya usaha tani, memang mestinya dioptimalkan, yang notabene saat ini sedang ada gangguan hama wereng, namun tetap bisa diatasi. Sehingga masih bisa menjadi penyangga pangan Jawa Tengah. Hal lain dikatakan, pemerintah daerah harus memikirkan upaya dan akses, bagi mereka yang punya keterampilan, dan ingin mencari pekerjaan diluar Sukoharjo. Soal Penghargaan
Ditanya pendapatnya soal penghargaan yang diraihnya, dia mengatakan masih ada rasa bingung. Tapi setelah hadir langsung, barulah betul-betul yakin, bahwa pantauan SDM yang mengabdi dan berprestasi di daerah-daerah, cukup diperhatikan Lembaga Apresiasi dari Jakarta.
“Kami sangat berterimakasih sekali. Insya Allah, dengan penilaian dan penghargaan ini, kami kemudian tidak mengecewakan masyarakat kami. Ini justru merupakan cambuk, agar kami mampu mengabdi lebih baik lagi, untuk mengupayakan apa-apa yang belum berhasil,” jelasnya. Menurutnya, tujuan bangsa ini harus secepatnya diupayakan. “Dan bagi Pemda, ini mekanisme sudah ada, potensi ada, maka kepemimpinan daerah harus diaplikasikan untuk mencapai Tujuan Nasional di daerah,” pungkasnya bak negarawan. Pantaslah dirinya bahagia, untuk terus melanjutkan pengabdiannya, dengan meraih “The Prominent Figure Of Indonesian Development Golden Award,” diantara pejabat-pejabat daerah, dan anggota parlemen lainnya, seperti: Dirut PDAM Sidoarjo, Kepala Dinas Perhubungan dan Kominfo, Lahat (Sumsel), Kepala Bandara di NTT, Anggota DPRD dari Papua, dan lain-lain
Adapun penganugerahan award diserahkan langsung oleh: Ketua Dewan Pembina YAPI, Mayjen TNI (Purn) ATS Siagian, SE; dan Penasehat, Prof. DR. H.B Kalili, MM, didampingi Chairman, Danny Pantas HS, SE, MBA, MM, dan Ketua Pelaksana, Moody J. Prang. Sedangkan ramah tamah dihibur oleh penyanyi lawas Endang S. Taurina, dan artis ibukota lainnya. (DannyS/Ucok.S)
|