|
Jakarta, lintasindonesia.com. Merasa terpanggil melanjutkan pengabdiannya di kampung halaman, putera Lahat ini rela tinggalkan Jakarta, walau sejak SMA hingga bekerja sudah lama di Jakarta. Tentu bukan sembarang pilihan, jika nalurinya mengatakan harus balik kampung.
Drs. Syaifuddin, yang kini menjabat Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi & Informatika Kabupaten Lahat (Provinsi Sumatera Selatan) inipun, menerima Anugerah Prestasi Insani, kategori “The Prominent Figure Of Indonesian Development Golden Award” periode Mei 2011, atas prestasi dan dedikasinya. Award diserahkan oleh Yayasan Anugerah Prestasi Insani (YAPI), di Kartika Chandra Hotel, Jakarta, Jum’at (06/05) malam, tiga pekan lalu. Dalam bincang dengan wartawan, sebelum acara dimulai, Syaifuddin mengungkap kisah perjuangan hidup dan karirnya. Dilanjutkan wawancara jarak jauh, beberapa hari kemudian. Diceritakan, jauh sebelumnya, dia sudah malang-melintang di kota metropolitan, walau waktu kecil sempat ngangon sapi didesanya. Namun dari SMA, kuliah, hingga dia bekerja di Departemen Perhubungan, Jakarta Pusat, sudah tak asing lagi dengan kehidupan Jakarta. Bahkan ketika dia masih di SMA Negeri 21, Pulomas, Jakarta Timur, dia pernah merasa getirnya kehidupan, berdagang asongan di Monas (Monumen Nasional). Itu dilakukan, usai jam sekolah untuk menambah uang saku, karena kiriman ibudanya yang serba pas-pasan. Sebab ayahnyapun sudah meninggal, sejak dirinya masih kecil. Setahun setelah lulus SMA (1978), diapun masuk kerja di Departemen Perhubungan, atas bantuan temannya, untuk mengganti posisi yang kebetulan pensiun. Dan posisi petama kerja, hanya sebagai pengantar surat. Namun itu justru membuatnya terpacu, sehingga dia lanjutkan studi di Universitas Nasional (UNAS), Jakarta, jurusan Sospol. Bahkan termotivasi oleh para dosennya, seperti Prof. Dr. Deliar Noor, Dr. Arbi Sanit (waktu itu Dekan), dan Dwi Susanto (Alm). Lulus tahun 1988, diapun penyesuaian pangkat, dan golongan. Setelah berkali-kali rotasi sebagai Kasubag, bahkan sempat ditugaskan ke Provinsi Jambi dan Bangka Belitung, dia tetap ditarik lagi ke Jakarta.
Mengabdi Di Kampung Halaman Dalam perjalanannya, setiap pulang ke kampung, hatinya selalu terusik. Tingginya tingkat kecelakaan, semrawutnya lalu-lintas dan kurang berkembangnya layanan perhubungan waktu itu, menggugah pikirannya. Disitulah awal nalurinya bergeming. Akhirnya, diapun putuskan balik kampung, untuk membantu menangani dinas perhubungan, setelah sebelumnya berkomunikasi dengan Bupati Lahat, tahun 2009. Berkiprah di tanah kelahiran, membuatnya lebih menonjol. Banyak hal yang ditata ulang dan lakukan terobosan baru. Gagasan yang didorongnya, adalah rencana pembangunan lapangan terbang (bandara) mini antar kabupaten. Berdasarkan pengkajian instansinyapun, bandara itu memang sudah saatnya, bila tak ingin Lahat sebagai kota mati. Alasannya, kalau ingin dari Lahat ke Jakarta, maka untuk mencapai ibukota provinsi saja, butuh waktu 7 jam lewat darat. Kalau lanjut ke Jakarta naik pesawat, 1,5 jam. Jadi, kalau sudah ada bandara, maka bisa dipapas 6 jam. Syaifuddin mengatakan: “ Dengan adanya nanti layanan penerbangan ‘Susi Air’ antar kabupaten, maka waktu dari Lahat – Palembang - Jakarta diperkirakan hanya 2,5 jam,” ujarnya memperkuat penjelasan Menurutnya, alasan lain, karena dengan sumber daya alam batubara dan gas di Lahat menyebabkan banyak tenaga kerja asing, dan tenaga kerja Swasta Nasional besar, yang perlu layanan transportasi cepat, ke dan dari Provinsi maupun Jakarta.
Dikatakan, MOU-nya pun sudah ada, antara perusahaan Susi Air dengan Gubernur Sumsel. Bahkan Bupatipun sudah menyiapkan lahan. Tahun ini harus segera dibangun. Sayangnya, hingga kini nama bandaranya belum ditetapkan.
Selamat HUT ke 142 Lahat Seiring peringatan HUT Kabupaten Lahat ke-142 (perayaan ke-13), tanggal 21 Mei 2011, sebagai abdi negara dia mengucapkan: “Selamat Bagi Kabupaten Lahat. Semoga apa yang sudah dicapai, dapat terus ditingkatkan, demi pelayanan publik yang optimal,” ucapnya berharap. “ Bagi generasi muda, bekali diri dengan kualitas, kecerdasan dan prestasi. Tingkatkan ketaqwaan dan iman. Jauhi narkoba, miras, dan hindari diri dari hal-hal yang tak bermanfaat. Jadilah generasi yang mampu membangun,” tegasnya. Sebagai anak bangsa, dirinya juga mengucapkan Selamat kepada Bupati, sebagai pimpinan terbaiknya, dimana Lahat cukup berkembang di berbagai lini. Bahkan dijelaskan, Pak Bupati nyaris tak ada waktu di ruang kerja. Dia sering keliling ke masyarakat, untuk mendengar keluhan dan keinginan masyarakat. Selanjutnya, Asisten dan Sekda yang mengerjakan.
Nilai-nilai Pancasila di Masyarakat Ditanya soal maraknya situasi yang merisaukan masyarakat di berbagai daerah, dirinya juga turut prihatin. Nilai-nilai Pancasila menurutnya makin tergerus dalam kehidupan bermasyarakat. Dia mengatakan: “Menurut saya, Pancasila itu sebenarnya sudah paripurna. Bahkan itu juga sudah termasuk dalam Al Qur’an. Persoalannya, apakah masih berakar dalam jatidiri bangsa ini atau tidak?,” pungkasnya justru mempertanyakan. Ditanya soal apakah perlu ada sebuah lembaga atau badan khusus yang mengurusi sosialisasi Pancasila sebagai ideologi Negara, dia sangat setuju. Bahkan dikatakan hendaknya sekaligus berperan mengawasi dijalankannya nilai-nilai Pancasila itu sendiri. “Saya pikir, konsep Presiden Soeharto sebenarnya sudah baik. Namun, di era reformasi ini perlu dibangkitkan kembali dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak perlu harus seperti BP-7 dulu. Bagaimana modelnya, yang penting ada lembaga yang fokus,” ungkapnya menyarankan.
Menerima Penghargaan Ditanya bagaimana perasaannya, atas penghargaan yang diterima, dia mengatakan: “ Ya, saya sangat terkesan dan antusias! Tak menyangka, kita yang jauh di pelosok dan terpencil, ternyata diperhatikan oleh lembaga apresiasi independen dari Jakarta,” ungkapnya. Dikatakan, hidup kita ini untuk orang banyak. “Jadi, secara moril, penghargaan ini menjadi motivasi baru sekaligus tantangan untuk mampu berbuat lebih baik lagi bagi masyarakat,” imbuhnya. Diapun menyatakan terimakasih kepada Pimpinan YAPI (Yayasan Anugerah Prestasi Insani). Bahkan berharap, agar ajang yang seperti itu, lebih banyak diketahui masyarakat. Pantaslah dirinya bahagia, bersama penerima award lain, seperti: Bupati Pacitan; Wakil Bupati Sukoharjo; Dirut PDAM Sidoarjo, Kepala Bandara Atambua NTT, Anggota DPRD dari Papua, dan figur lainnya. Tak tertutup kemungkinan, suatu saat dirinya diminta masyarakat untuk menjadi Bupati. Sementara itu, award diserahkan oleh Ketua Dewan Pembina YAPI: Mayjen TNI (Purn) ATS Siagian, SE; Penasehat: Prof. DR. H.B Katili, MM, didampingi Chairman, Danny Pantas HS, SE, MBA, MM, dan Ketua Pelaksana, Moody J. Prang. Ramah tamah dihibur penyanyi lawas, Endang S. Taurina, dan artis ibukota lainnya. (Danny S/ Ucok S) |