| “Ya”ahowu" Salam Khas Nias |
| Minggu, 23 Oktober 2011 19:41 |
Lintas Indonesia – Jakarta. “Ya”ahowu”, itulah salam khas masyarakat daerah Nias (Sumut), mengawali Pagelaran kesenian Nias bertemakan ‘Semalam di Tano Niha’ diselenggarakan di anjungan Sumatera Utara, TMII, sabtu 23/10/2011.Malam kesenian yang ditampilkan oleh Kabupaten Nias membuat antusias para pengunjung yang hadir sangat menikmati hiburan budaya yang disuguhkan. Tampak pula hadir beberapa para duta besar dari manca Negara, serta beberapa calon investor yang ingin sekali menanamkan modalnya di NIas. Kabupaten Nias dibandingkan dengan kabupaten lain yang ada di wilayah Indonesia relative cukup tertinggal. Menyikapi keadaan ini pemerintah bersama dengan masyarakatnya bergandengan tangan untuk terus membangun melakukan perubahan menuju Nias yang maju. Sokhiatulo Laoli Bupati Nias menjelaskan, “Melalui event Pagelaran Kesenian ini diharapkan Nias lebih dapat dikenal oleh dunia atau masyarakat diluar kepulauan Nias. Sekaligus memperkenalkan produk unggulan serta potensi wisata. Kepada para pelaku dunia usaha, kami mengundang agar dapat berinvestasi untuk menanamkan modalnya di NIas,” jelasnya. Menurut Baziduhu Zebua Kepala Dinas Pariwisata Nias mengatakan, ”Pasca Tsunami kami telah berbenah diri, melakukan perbaikan-perbaikan di segala bidang untuk mengembalikan keindahan Nias yang ada dimasa sebelum Tsunami memporakporandakan hampir di seluruh pulau Nias,” jelasnya. Pulau Nias memiliki luas 5-318 kilometer persegi. Rumah Nias yang dibangun dengan bahan kayu dan konstruksi fondasi seperti panggung terbukti tahan gempa. Ini tentu berangkat dari pengalaman leluhur suku Nias yang hidup di tanah rawan gempa. Rumah-rumah itu tetap kokoh dan berfungsi hingga kini meski berumur ratusan tahun. Dalam masyarakat Nias berkembang ungkapan bö’ö mbanua bö’ö mböwö, bö’ö mbanua bö’ö vatö yang berarti setiap desa memiliki tradisi yang berbeda. Ini, antara lain, tecermin dari beragamnya konstruksi dan bentuk rumah di setiap wilayah di Nias. Pada dasarnya, pendirian rumah tradisional Nias tanpa menggunakan paku, hanya pasak. Atapnya dari anyaman daun rumbia. Di banyak desa, tata ruang perkampungan tempat rumah tradisional Nias bersanding dengan keindahan batu besar (megalitikum). Tentu bangunan-bangunan itu tak akan berarti tanpa tradisi dan budaya masyarakat yang menjadi jiwanya. (Bri). |
Lintas Indonesia – Jakarta. “Ya”ahowu”, itulah salam khas masyarakat daerah Nias (Sumut), mengawali Pagelaran kesenian Nias bertemakan ‘Semalam di Tano Niha’ diselenggarakan di anjungan Sumatera Utara, TMII, sabtu 23/10/2011.




