Krisis Ekonomi Global
Senin, 24 Oktober 2011 21:46

 

Lintas Indonesia – Jakarta. Krisis ekonomi  yang melanda pada sebagian belahan dunia khususnya Amerika (AS) dan di negara-negara Eurozone, masih belum ada tanda-tanda pemulihan yang berarti. Tahun 2010 sedikit menunjukkan perbaikan ternyata kembali mengalami kontraksi dengan ditandai melemahnya pertumbuhan ekonomi global.

Dampak krisis ekonomi global tersebut belum menunjukkan pengaruh langsung terhadap perekonomian Indonesia, karena masih didukung oleh kekuatan pasar domestik.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bekerjasama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) menyelenggarakan ceramah ekonomi dengan mendatangkan Prof. Dr. Nouriel Roubini dengan tema ‘Global Economic Challenge and it’s impact on Indonesia’. BKPM dan ISEI yakin krisis ekonomi global yang berkelanjutan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Senin, 24/10/2011.

Gita Wiryawan menjelaskan, rasio hutang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2011 masih sehat yakni sebesar 25,2% lebih rendah dibandingkan rasio tahun 2009 dan 2010, ”Hal tersebut Indonesia jangan lengah akan adanya potensi pengaruh negatif atas krisis ekonomi global yang masih terus berlangsung terhadap masa depan ekonomi Indonesia,” Jelasnya.

Pemerintah dan dunia usaha di Indonesia harus mampu mengantisipasi kemungkinan akan menjalarnya pengaruh negatif krisis ekonomi global ke Indonesia dengan menyiapkan berbagai kemungkinan yang dapat meminimalkan pengaruh tersebut.

Nouriel Roubini adalah guru besar ekonomi di Stern School of Business yang juga sebagai pendiri serta  ketua di suatu badan usaha independen dengan nama ‘Global Economics’ yakni menengahi penelitian strategi pasar dan makro ekonomi secara global, Pemilik roubini.com ini juga adalah salah satu sumber informasi ekonomi terbaik yang dimiliki Business Week, Forbes, The Wall Street Journal, dan The Economist.

Ekonom yang biasa disebut ‘Dr Doom’ ini menjelaskan bahwa dewasa ini banyak negara-negara berkembang yang telah berubah menjadi emerging market. Duniapun mengakui bahwa negara-negara emerging market itu telah menjadi penopang ekonomi dunia yang saat ini sedang dilanda ketidakpastian.

Untuk mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi, Roubini mengusulkan sejumlah cara yang dapat ditempuh oleh Indonesia. Dia mencontohkan langkah China yakni dengan melakukan ekspor secara besar-besaran, hal ini cukup efektif didalam memacu laju pertumbuhan ekonomi.

Namun dia juga mengakui bahwa langkah ini dapat mengakibatkan kondisi yang kurang baik terhadap keuangan negara seperti China yang mencatat rasio hutang terhadap PDB yang telah mencapai 50 persen.

“Kuncinya adalah selain adanya peningkatan konsumsi domestik sebagai alat penyeimbangnya kita perlu mempertahankan ekonomi dengan melakukan ekspor. Kita mengacu pada pertumbuhan potensial yang ada di Indonesia dan India serta beberapa Negara emerging market lainnya,’ Jelasnya.  

Dalam rangka untuk memenuhi pasar domestik, dia menyarankan agar Indonesia perlu memiliki rantai pemasok yang baik. Hal ini ditentukan pula dengan adanya dukungan dari infrastruktur yang baik, “Investasi domestik dari sektor swasta dan publik di Indonesia memilki potensi pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Menurut saya Indonesia bisa lebih meningkatkan pertumbuhan ekonomi didalam hal konsumsi, investasi dan ekspor,’ Kata Roubini.

Sebagaimana yang telah diketahui dia melanjutkan, Eropa tengah mengalami krisis yang paling parah, Seperti Yunani yang kemungkinan akan mengalami kegagalan didalam membayar hutangnya, Spanyol dan Portugalpun mengikuti jejaknya yang hampir saja kehilangan pasar. (Bri).     

 

 
Baner