| Untuk Memantau, Relawan Misi kemanusiaan WNI, Mahmoud Abbas Mengirim Utusan khusus ke Israel |
| Selasa, 01 Juni 2010 08:41 |
|
Bertugas di negara yang bertetangga dengan Israel dan Palestina, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di ibukota Yordania, Amman, kini diandalkan pemerintah pusat di Jakarta untuk memberi perkembangan terkini mengenai nasib para WNI yang terlibat dalam tragedi misi kemanusiaan “Freedom Flotilla to Gaza.”
Noor mengatakan bahwa pemerintah Palestina telah mengerahkan utusan khusus untuk mencari tahu nasib para WNI di Ashdod, Israel. “Presiden Mahmoud Abbas disebutkan telah mengirim utusan khusus beliau ke Tel Aviv untuk mengecek kondisi WNI dan hari ini akan menyampaikan kepada kami tentang jumlah dan kondisi warga Indonesia, termasuk yang dirawat, dan tata cara pemulangan,” kata Zainulbahar, melalui keterangan tertulis kepada wartawan, Selasa 1 Juni 2010. Menurut Zainulbahar, satu WNI yang cedera akibat pencegatan pasukan komando Israel terhadap konvoi Flotilla pada Senin kemarin, tidak disebutkan dalam kondisi luka berat. Informasi mengenai korban luka warga WNI diperoleh KBRI Amman langsung dari Abbas. “Saya telah mendapat telepon dari Presiden Mahmoud Abbas langsung melalui Dubes Palestina di Amman, bahwa dari semua warga Indonesia yang berada dalam tahanan atau ditangkap Israel, hanya satu orang yang cedera dan sedang dalam perawatan di London Hospital di Haifa City dekat Tel Aviv. Tidak disebutkan dalam kondisi berat,” kata Zainulbahar. Mengenai jumlah WNI yang bersedia dipulangkan, KBRI Amman belum mendapat konfirmasi. “Ada beberapa sumber untuk dapat ditanyakan, tetapi dapat saja misleading. Sumber paling valid dan bisa dipercaya hanya Presiden Mahmoud Abbas. Mari kita tunggu konfirmasi beliau,” kata Dubes Zainulbahar. Menurut harian Jerusalem Post, para aktivis akan didata dan selanjutnya akan dideportasi dari Israel. Aktivis yang menolak untuk ditanyai identitasnya akan ditahan dan dikirim ke penjara. Menurut catatan VIVAnews, sekitar 12 WNI ikut serta dalam armada “Kebebasan untuk Gaza” (Freedom Flotilla to Gaza) - yaitu misi pembawa bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina di Gaza, yang diblokade Israel selama tiga tahun. Para WNI yang ikut dalam misi itu lima berasal dari Medical Emergency Rescue Committee atau Mer-C, empat orang dari Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa), dan tiga dari Sabahat Al Aqsha-Hidayatullah. Armada yang terdiri dari enam kapal itu dicegat pasukan komando dan kapal angkatan laut Israel di perairan internasional setelah mereka tetap bergerak menuju perairan Gaza. Aksi pencegatan itu menimbulkan insiden berdarah di Kapal Mavi Marmara dan sejumlah aktivis dikabarkan tewas oleh berondongan tembakan tentara Israel. Menurut rilis IHH Turki, organisasi yang memotori misi ini, jumlah korban tewas mencapai 19 orang dan 50 lainnya terluka. (tam/vv) |
LINTAS INDONESIA -Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, telah mengirim utusan khusus ke Tel Aviv, Israel, untuk mencari tahu kondisi para Warga Negara Indonesia (WNI) setelah insiden di kapal Mavi Marmara awal pekan ini. Melalui bantuan Abbas, pemerintah Indonesia juga ingin memastikan jumlah WNI yang saat ini tengah ditahan Israel di pelabuhan Ashdod.




