bencana alam menghancurkan banyak pusat bisnis, hingga menghentikan laju pertumbuhan Jepang
Jumat, 11 Maret 2011 11:51

LINTAS INDONESIA -Media-media Jepang melaporkan banyak korban cedera dan kebakaran terjadi di Sendai, Jepang Utara dan Tokyo. Gelombang tsunami setinggi 10 meter juga melanda pelabuhan Sendai tetapi belum ada laporan rinci mengenai kerusakan yang terjadi.

Perfektur Miyagi dan sekitarnya termasuk beberapa wilayah industri utama yang memiliki banyak pabrik kimia dan pabrik elektronik.

Sementara itu posisi mata uang Jepang, Yen, sebelumnya telah melemah 0,3 persen terhadap dolar, sedangkan bursa saham Nikkei jatuh lebih dari tiga persen.

Pasar surat berharga dilanda kecemasan akan terus meluasnya kerusakan yang akan semakin menekan perekonomian Jepang yang sedang merosot, sementara kegiatan perdagangan emas di Tokyo Commodity Exchange terus meningkat.

"Kami masih tidak tahu bagaimana kerusakan dalam skala penuh, tetapi jika mengingat apa yang pernah terjadi di Kobe, pemerintah tampaknya akan segera mengucurkan anggaran darurat. Kami tidak berharap konsumsi akan turun. Ini akan menekan produk domestik bruto," kata Yamamoto.



Sementara itu JX Nippon Oil & Energy Corp, kilang minyak terkemuka Jepang, telah menghentikan operasi di tiga pusat kilangnya di Sendai, Kashima, dan Negishi, demikian laporan Jiji News.

Electric Power Development, produsen listrik utama Jepang juga telah menghentikan operasi di pembangkit listrik tenaga panas buminya di Yokohama.

Selain itu telah terjadi kebakaran besar di kilang minyak Cosmo Oil Co's Chiba, di Chiba, timur Tokyo. Kebakaran hebat juga melanda pabrik baja JFE Holdings Inc di Chiba.

Setelah jatuh di kuartal terakhir tahun lalu, perekonomian Jepang memang diperkirakan untuk segera bangkit di awal 2011 dengan tingkat ekspor dan produksi industri yang meningkat.

Tetapi sayang bencana alam yang menghancurkan banyak pusat bisnis itu bisa jadi akan menghentikan laju pertumbuhan setidaknya untuk sebentar.

"Pemerintah harus menjual lebih banyak obligasi, tetapi ini adalah situasi krisis, jadi tidak bisa dihindari lagi," ujar Yamamoto. (ant/robert)

 

 
Baner