Politik
Tjahjo Kumolo : calon Kapolri hendaknya memiliki integritas tinggi, komitmen kuat untuk membangun penegakan hukum dan citra Polri.
Senin, 05 Juli 2010 10:15
LINTAS INDONESIA -Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Tjahjo Kumolo, di Gedung DPR, Jakarta, Senin, mengatakan bahwa rapat internal pimpinan PDI Perjuangan membahas nama-nama perwira tinggi Polri dan keenam nama tersebut memiliki rekam jejak cukup baik dan layak menduduki jabatan Kapolri untuk menggantikan Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri yang akan memasuki masa pensiun.

Keenam nama perwira tinggi Polri tersebut adalah Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Komjen Pol Nanan Sukarna, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Gories Mere, Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Irjen Pol Ito Sumardi, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Timur Pradopo, Kapolda Sumatera Utara Oegroseno, dan Komandan Korp Brimob Irjen Pol Imam Sujarwo.

Menurut Tjahjo, keenam nama perwira tinggi Polri tersebut merupakan usulan dari PDI Perjuangan namun siapa figur yang akan direkomendasikan Presiden ke DPR hal itu adalah hak Presiden.

"PDI Perjuangan mengusulkan agar Presiden memilih figur yang terbaik dengan berbagai pertimbangan dan mengusulkannya ke DPR untuk disetujui," kata Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR ini.

Menurut dia, hendaknya Presiden mengusulkan satu nama saja calon Kapolri agar tidak terjadi perdebatan dan voting di internal DPR.

Kalau masih ada tiga nama yang dinilai terbaik, menurut dia, hendaknya diseleksi lagi oleh pemerintah hingga hanya satu yang direkomendasikan ke DPR.

PDI Perjuangan menetapkan, calon Kapolri hendaknya memiliki integritas tinggi, komitmen kuat untuk membangun penegakan hukum dan citra Polri serta tidak sombong, kata Tjahjo.
Selanjutnya...
 
Pengamat: Hak Pilih TNI, Cuma Stimulus SBY
Senin, 28 Juni 2010 02:37
LINTAS INDONESIA - Wacana tentang pemberian hak pilih bagi TNI-Polri dipandang pengamat militer Pro Patria, Hari Prihartono sebagai satu cara bagi Presiden untuk mengukur parameter demokrasi.

"Presiden coba melempar parameter sejauh mana demokrasi kita berjalan, reformasi internal di TNI hasilnya bagaimana. Ini yang coba distimulus," kata Hari dalam diskusi Radio Trijaya di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 26 Juni 2010.

Munculnya wacana pemberian hak pilih TNI-Polri baru-baru ini, disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jumat, 18 Juni lalu, di Cipanas, Presiden meminta Panglima TNI mengkaji tentang pemberian hak memilih pada personel TNI.

Menurut Hari, wacana itu hanyalah stimulus dari Presiden SBY. Sebab, menurutnya, hal ini juga pernah terjadi di tahun 2004. Dan saat itu, presiden juga tidak menegaskan kapan usulan itu bisa diterapkan, karena hanya merupakan stimulus saja.
Selanjutnya...
 
Hilmi Aminudin : PKS Lakukan konsolidasi, koordinasi, dan mobilisasi baik di tingkat internal partai atau ruang lingkup bangsa dan bernegara
Rabu, 16 Juni 2010 07:31
LINTAS INDONESIA - Sidang Majelis Syuro yang dijadwalkan berlangsung hingga Rabu malam ini merupakan bagian dari rangkaian Musyawarah Nasional PKS mulai 16 hingga 20 Juni 2010.

konsolidasi ini menjadi salah satu bagian penting PKS dengan tujuan mendorong konsolidasi berbangsa dan bernegara di semua level.

"Kita lakukan konsolidasi, koordinasi, dan mobilisasi baik di tingkat internal partai atau ruang lingkup bangsa dan bernegara, juga koalisi kita untuk mencapai tujuan nasional," kata Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminudin yang ditemui sebelum persidangan dimulai.

"Yang penting adalah bagaimana konsolidasi nasional secara bersama untuk mengatasi segala kasus multidimensi," ujarnya.

Sidang Majelis Syuro PKS ini akan membahas dan mengesahkan tiga agenda utama.
Selanjutnya...
 
DPR: TNI Bisa Dikirim ke Gaza Untuk Mengevakuasi dan Menyelamatkan Relawan WNI, Kaukus parlemen Desak Pemerintah Ambil Sikap Tegas
Selasa, 01 Juni 2010 08:40

LINTAS INDONESIA - Wakil Ketua Komisi I TB Hasanuddin (Fraksi PDIP) menilai secara teoritis pengiriman pasukan TNI untuk menyelamatkan dan mengevakuasi para WNI relawan yang diserang militer Israel memang dimungkinkan.

 

Akan tetapi ada banyak pertimbangan dan kendala yang menjadikan kemungkinan tersebut sulit diwujudkan. Kendala pertama terkait kemampuan teknis dan anggaran yang memadai untuk bisa mengirimkan sepasukan TNI ke wilayah tersebut.

“Dalam kapasitas memberikan perlindungan terhadap WNI, bisa saja TNI dikerahkan dan dikirimkan ke sana. Namun ada banyak aspek lain yang harus dipertimbangkan. Pengirimannya kan terlalu jauh sementara kemampuan TNI terbatas, kita tidak punya kapal induk untuk mendukung pengerahan pasukan itu. Selain itu kita juga tidak punya hubungan diplomatik. Kalau pun dikirimkan pasukan, bisa berkembang jadi pertempuran bebas,” ujar Hasanuddin.

Selanjutnya...
 
Ego sektoral dan maraknya konflik mewarnai OTDA (Otonomi Daerah)
Jumat, 21 Mei 2010 16:57

LINTAS INDONESIA - Otonomi Daerah membawa konsekwensi  logis kepada pemerintahan daerah berupa tanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan dasar lainnya,Pola birokrasi yang selalu ingin dilayani disinyalir masih saja terjadi dan bukan sebaliknya,bila hal ini terus terjadi tanpa adanya perubahan kinerja aparat pemerintahan (khususnya pemimpin daerah )dikhawatirkan akan membekas menjadi sebuah mindset yang kemudian  hari akan mengganggu efektifitas kinerja pemerintah daerah.
"Padahal,semangat otonomi daerah  melalui UU nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah membuka kesempatan bagi setiap pemerintahan daerah untuk lebih mendekatkan kepada masyarakat,sehingga patologi birokrasi dapat ditekan dan dihindarkan,dengan demikian akses masyarakat kepada pemerintah akan semakin dekat."Ujar Drs H.M Parawansa saat memulai seminar Nasional "OTONOMI DAERAH DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT" DI selenggarakan oleh Dept OTDA PKMN KAHMI

Desentralisasi sebagai alternatif dari sentralisasi sering dianggap  sebagai kekuatan yang mampu membawa kebijakan  pembangunan  lebih dekat dengan masyarakat,selain untuk mendorong pertumbuhan,melalui transfer urusan-urusan pemerintahan kedaerah,berbagai prosedur dan tetek bengek yang menghadapi interaksi antara pemerintah dengan masyarakat,termasuk pasar,dapat diminimalisir,namun hal ini sangat berbeda dilapangan dimana terjadi kesulitan implementasi,jelas ini terjadi," kurangnya komitmen dan dukungan elite politik nasional,desentralisasi berarti adanya kehilangan kekuasaan dan otoritas elit nasional,untuk itu tidak jarang,mereka enggan melaksanakan kebijakan desentralisasi karena takut kehilangan kekuasaan,kalo pun ada kebijakan,mereka enggan mewujudkan sebagai sebuah realita,ujar Kacung  Marijan (guru BesarFISIP UNAIR)menjelaskan pada sesion kedua

Selanjutnya...
 
Qoyum Al-jabar : Saya Mengusung Kekuatan Ide dan Gagasan Besar untuk GMPI
Rabu, 12 Mei 2010 13:11

LINTAS INDONESIA -Terpilihnya Hilman Ismail Hasan Metareum di Muktamar III GMPI di asrama haji Bekasi Jawa Barat menimbulkan ketidak puasan pihak kubu Qoyum Al-jabar,tersirat kabar tokoh muda PPP ini akan membuat GMPI tandingan

"Kami akan menuntut kepengadilan untuk uji materil,karena hasil pleno terakhir tentang pemilihan Formatur , dikarenakan ada beberapa hal,tatib bertentangan dengan AD/ART yang telah disepakati  oleh muktamirin baik disidang komisi dan Pleno,sehingga lebih dari 70% muktamirin walk out,kemudian upaya hukum dilakukan untuk mencari kebenaran  dalam pembelajaran organisasi dan pendidikan politik untuk kebesaran GMPI dan PPP,sehingga berpolitik dengan semata-mata merebut kemenangan dengan melakukan segala cara dan tidak didasari kesantunan berpolitik tidak akan terulang jika tidak hal ini akan menjadi Jurisprudensi bagi pola berorganisasi kedepan  yang tentunya akan meng kerdilkan organisasi dan partai," beber Qoyum  Al-jabar saat ditemui di Pattimura.

Hal ini sesuai permintaan teman-teman cabang Jatim,Jateng,Kalsel,Sumut dan Lampung,

"Makanya saat diskor sebelum shubuh para pendukung saya tidak  ada masuk keruang sidang Pleno Muktamar lagi,sehingga sidang diarahkan keaklamasi dalam pemilihan formatur yang cuma tinggal 30 % pesertanya." ujar qoyum menjelaskan
Selanjutnya...
 
Emron Pangkapi : Tukang Kayu Pandai Tidak akan membuang Kayu Yang Sisa
Jumat, 07 Mei 2010 16:14
  1. LINTAS INDONESIA - Ada perasaan bahagia dan terharu saat terpilihnya Hilman Ismail Hasan Metareum di-Muktamar III GMPI bagi kelompok muda dan senior di partai lambang Ka'bah ,karena momentum ini  bisa langkah awal kebangkitan untuk memenangkan pemilu 2014,setidaknya kompromi dapat dirasakan karena tidak ada tarik menarik perebutan Formatur saat pemilihan walaupun ada death lock sampai tengah malam namun tidak mengurangi kesuksesan peristiwa akbar di GMPI
Selanjutnya...
 
Hilman Ismail Hasan Metareum : GMPI akan bekerja keras dan bekerja Cerdas
Kamis, 06 Mei 2010 16:39
LINTAS INDONESIA - "Hidup PPP !!!! ,Hidup GMPI !!!! ,"teriak Hilman Ismail Hasan Metareum memekik untuk menyemangati muktamirin yang penuh haru dan bahagia menyambut ketua Umum terpilih periode 2010-2015 disaksikan oleh Ketua Umum GMPI yang Demisioner Irgan Chairul Mahfuz yang tersenyum,karena seakan-akan Aula Muktamar mau runtuh dengan pekikan yang menggelora dari peserta Muktamar yang meghadiri penutupan Muktamar GMPI III di asrama Haji Bekasi

"Terima kasih buat para kader GMPI yang memberikan kepercayaan kepada saya untuk memimpin GMPI  5 tahun kedepan, tutur Hilman Ismail Metareum sebagai ketua Umum yang terpilih dalam kata sambutan penutupan Muktamar,
Selanjutnya...
 
Muhammad Iqbal Bachtiar Chamsyah,SE,MSi : GMPI harus Produktif,Kreatif dan Inovatif
Selasa, 04 Mei 2010 17:33
"GMPI sebagai sayap partai kedepannya harus bekerja keras,bila dilihat perolehan kursi PPP di DPR saat ini sangat menurun tajam,bila dibandingkan masa lalu PPP, hal ini merupakan PR bersama pengurus GMPI yang akan datang,"Ujar Kader PPP Mohammad Iqbal Bahctiar Chamsyah SE Msi ketua Nasional PEKA RESCUE yang juga anggota  komisi IX DPR RI.
Selanjutnya...
 
Runtuhnya Singgasana Politik Kiai
Rabu, 21 April 2010 07:28

LINTAS INDONESIA - Ada pertaruhan besar bagi para kiai yang terus bermanufer dalam kancah politik kekuasaan. Yakni pertaruhan “kuasa moral” kiai dalam melumpuhkan, menghancurkan, dan memutus jaring kuasa politik yang dalam bahasa YB Mangunwijaya (1997:4), dunia politik digenangi dan dirembesi jiwa korup, mental mencuri, bohong, main tipu, suka yang semu, urik, tidak kenal fair play, dan telah mencengkeram bangsa.

Di tengah pertaruhan inilah seringkali kiai gagal menjalan peran profetiknya di dunia politik kekuasaan. Kiai gampang di”kibuli” para politisi yang memang mudah main “silat lidah”, sementara kiai berdiri dengan pakem politiknya yang kaku dan normative. Massa besar yang berada dibelakang kiai hanya dijadikan modal social politisi untuk melanggengkan kekuasaan yang mengibuli. Kiai akhirnya kerap “jatuh” dalam dunia politik bahkan sekarang malah dijauhi umatnya, karena telah “terinfeksi” oleh kotornya politik kuasa.

Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 11
Baner