| SBY Bantah Anut Paham Neoliberalisme |
| Rabu, 20 Mei 2009 07:41 |
|
LINTAS INDONESIA - Bakal calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono membantah menjalankankebijakan ekonomi neoliberal selama lima tahun memimpin pemerintahan. Bantahan itu disampaikan Yudhoyono pada acara temu capres yang digelar Kamar Dagang dan Indusri (Kadin) di Ballroom Gedung Djakarta, Jakata, Rabu (20/5). "Kita tidak menganut paham neoliberal. Orang-orang banyak bicara tentang neoliberal tetapi mereka tidak paham apa itu neoliberalisme," ujarnya. Menurut Yudhoyono, pemerintahannya tidak pernah menganut paham neoliberalisme yang menyerahkan semua kebijakan ekonomi pada aturan pasar bebas. Selama lima tahun terakhir, Yudhoyono mengatakan, kebijakan ekonomi pemerintahannya juga memberikan proteksi kepada masyarakat berkemampuan ekonomi lemah sambil mengalirkan pertumbuhan. Selain itu, pemerintah juga banyak melakukan intervensi mengeluarkan kebijakan ekonomi tanpa menyerahkannya begitu saja kepada para pelaku usaha, terutama perusahaan-perusahaan multinasional. Sejak memilih calon wakil presiden mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono, ternyata Yudhoyono yang maju kembali dalam Pemilu Presiden 2009 diterpa isu menganut paham ekonomi neoliberal. Yudhoyono meminta agar semua orang tidak latah menuding dirinya menganut paham neoliberal tanpa mengerti apa yang dimaksud dengan neoliberal tersebut. Pada acara temu capres yang digelar oleh Kadin , Yudhoyono juga menegaskan ia bukan penganut paham pemuja pertumbuhan setinggi-tingginya. Pertumbuhan ekonomi, menurut dia, harus disertai oleh pemerataan yang dapat dinikmati oleh semua rakyat. Yudhoyono juga mengatakan ia tidak mempercayai rumusan "trickle down effect", yaitu bahwa pertumbuhan ekonomi bermula dari lapisan ekonomi kelas atas yang akan mengalir merata ke kelas ekonomi bawah. "Itu tidak bekerja untuk negara berkembang. Ke depan, tidak boleh lagi ada disini tumbuh sedangkan yang disana hanya menunggu bantuan," ujarnya. Di akhir acara temu capres tersebut, Yudhoyono juga menegaskan ia bukan termasuk kaum ultranasionalis yang mengartikan nasionalisme dalam arti sempit, namun juga bukan penganut neoliberalisme. Dirinya, lanjut Yudhoyono, ingin pembangunan bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. (Ant/tammo) |




