| Amien Rais Nilai 100 Hari Pemerintahan SBY-Boediono Kocar-Kacir |
| Kamis, 28 Januari 2010 06:18 |
|
LINTAS INDONESIA- Mantan Ketua MPR RI Amien Rais menilai kinerja 100 hari pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono kocar-kacir karena adanya skandal Bank Century menyedot perhatian masyarakat luas. Namun demikian ia tidak sepakat adanya upaya pemakzulan karena tidak ada signifikansinya. “Kita kembalikan ke fokus lagi saja. Siapa saja pemimpin atau pejabat tinggi yang merobohkan pagar keuangan negara sehingga Robert Tantular bisa merampok Rp6,7 triliun, harus bertanggung jawab. Apakah dari pihak Bank Indonesia atau Departemen Keuangan. Siapa pelakunya harus dikejar sampai ke ujung bumi,†katanya. Amien menilai, dalam kasus Bank Century sangat jelas ada tokoh Bank Indonesia dan Departemen Keuangan yang paling bertanggungjawab. “Bayangkan saja, seorang Menteri Keuangan melaporkan masalah pengelolaan uang negara melalui sms (short message service), kayak orang pacaran saja,†katanya saat menghadiri Pencanangan Gerakan Nasional Wakaf dan Tanam Pohon Warga Muhammadiyah di Sportorium Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta, Rabu (27/1). Ia juga menilai ada beberapa hal yang aneh, seperti pengakuan bahwa uang yang dipakai untuk bailout Bank Century bukan uang negara. Padahal, yang mengeluarkan uang itu adalah lembaga negara. “Untuk menuntaskan kasus ini harus ada semacam investigasi meja bundar. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), kejaksaan, kepolisian, PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan), serta Pansus Bank Century harus bersatu. Termasuk agar ketahuan ke mana saja aliran dananya,†ungkapnya. Amien kembali menegaskan agar pengungkapan kasus Bank Century tetap fokus dan pelakunya harus dikukum. “Setelah pelaku dihukum setimpal lantas kasus ini segera ditutup dan SBY ke depan bisa melangkah lebih tegap. Sekarang ini perjalanan pemerintahan kocar-kacir. Bank Century seolah-olah menjadi masalah pokok dan masalah lain hanya sampiran saja,†katanya. Ketika ditanya tentang reaksi sejumlah tokoh dan aktivis mengenai tuntutan SBY-Boediono untuk mundur dalam aksi 28 Januari, ia tidak mau berkomentar.Mereka harus kita hargai, jawabnya singkat sambil meninggalkan wartawan. (MI/Yat)) |




