Viva Yoga Mauladi : Sistem Proporsional terbuka disebabkan sistem itu mampu meningkatkan hubungan yang intensif antara Caleg Terpilih dengan Pemilihnya. .
Kamis, 22 Desember 2011 18:11

LINTAS INDONESIA - Jakarta  -"Direvisi UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu, sikap PAN tetap mendukung sistem proposional terbuka (suara terbanyak) untuk menentukan calon legislatif terpilih. Di internal PAN telah diatur penetapan caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak. Caranya dengan menggunakan celah konstitusional di UU Pemilu," kata Ketua Pemenangan Pemilu Partai Amanat Nasional (PAN), Viva Yoga Mauladi.

Menurut Viva Yoga, dasar pemikiran PAN mengusung dan mendukung sistem proporsional terbuka karena sistem itu mampu meningkatkan hubungan yang intensif antara caleg terpilih dengan pemilihnya.
Pertimbangan selanjutnya, kata Viva Yoga, sistem proporsional terbuka bersifat adil karena bagi calon legislatif yang bekerja keras dan membangun konstituen secara kontinu pasti akan terpilih di nomor urut berapa pun.


Anggota Komisi IV DPR RI itu menambahkan, untuk menjadi anggota dewan, akan terjadi persaingan yang terbuka dan masing-masing akan menunjukkan kemampuannya di hadapan konstituen. Dan, tentunya membuka kompetisi antarcaleg secara terbuka.

Ia memisalkan ada kecurangan dan penyimpangan yang dilakukan caleg, maka di dalam UU atau di internal partai perlu dirumuskan kode etik sebagai landasan nilai moral dalam berkompetisi. Hal ini juga akan menghilangkan budaya nepotisme dan oligarki dari pimpinan partai karena suasana kompetisi bebas akan mampu meningkatkan kualitas pemilu.
Selain itu, kata Viva Yoga, soal biaya kampanye dan sosialiasasi caleg, dalam sistem pemilu apa pun pasti akan lebih besar ditanggung oleh caleg dibanding partai.
"Bagi caleg yang bekerja sejak awal dalam rangka membangun konstituen, maka tidak akan mengeluarkan biaya terlalu besar. Tapi bila caleg hanya vote buying, tentu akan mengeluarkan biaya besar meski setelah diberi uang rakyat juga belum tentu memilihnya," ujar Viva Yoga.

Soal disiplin atau tidak itu, menurut dia, bukan soal sistem pemilu yang diterapkan, melainkan tergantung kualitas anggota DPR RI, visi politik, dan komitmen moral, serta peraturan perundangan-undangan yang diterapkan.
Seluruh partai tentunya sudah mempunyai tata cara dan pedoman untuk memonitor kinerja anggota DPR RI, termasuk kedisiplinan. Semua tergantung kepada political will partai dan pimpinan DPR RI untuk melaksanakan peraturan dan kebijakan internal partai secara konsisten.

"Dari semua itu, sistem pemilu dengan suara terbanyak akan banyak memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas demokrasi dan sistem kepartaian yang sehat dan kuat," kata Viva Yoga.(Ant/alfian)

 
Baner